bukan karena namun agar

bukan karena namun agar

hujan selalu turun di ujung bulu mataku

karena tak dapat lagi ku sampaikan setiap rasa akanmu padamu

bukan karenamu

selalu ingin ku katakan setiap

keluhku kala bayangmu hadir

sipuku kala mengenangmu

tangisku setelah keluh dan sipu

harus ku urungkan semuanya

agar kau tak terganggu

aku harus menutup setiap perubahan raut wajahku di depanmu

di balik senyuman dan diam

agar kau tak memikirkanku

aku berpura-pura acuh

terkandang mngabaikan tanyamu

agar kau tak memperhatikanku

aku menatapmu diam-diam selalu stiap kau melangkah menjauh

hingga bayangmu benar-benar menghilang

mungkin kau tak tahu dan tak boleh tahu

jika aku bertanya padamu tentang kehidupan

itu murni diriku, bukan hati ku

hatiku sudah tak kanĀ  bertanya-tanya lagi

tak usah khawatirkan aku…

ternyata

ternyata

aku bernyanyi tentang kepiluan ini

bersama hujan bayanganmu

ku berharap ini segera reda

satu tetes bayangmu menjadi segelas airmata

semakin berharap semakin deras..

 

aku tahu waktu kita hanya sekejap saja..

namun kau sanggup membuat palung

tajam dan dalam, penuh dengan aliran bunga

 

ketika aku tengah asik melukiskan garis-garis wajahmu di kanvas mimpiku

kau berucap.. entah dengan senyum atau tangis

aku tak berani menatap, mendengar pun aku sebenarnya tak mau

ketika itu pula aku tahu tak kan ada yang nyata..

ternyata aku melukismu dengan abu jasadku

dan baru ku sadari bunga-bunga dalam palung yang kau buat

hanya hanyut dalam aliran darahku

bukan indah namun perih

suasana itu

suasana itu

aku disini terbius diam

angka dan notasi berebut memasuki sel-sel otak

namun celahnya masih berdiameter titik

saraf gerak melemah kaku

hanya kedipku yang tak bisu

 

indahmu

mengikis tipis sadar

menuatkan ruang hati di hati

membakar aura yang pernah memudar

menggigit jari untuk unjuk gigi

menelan ludah untuk berhenti berucap

 

oh

ku tulis ini sambil menyaksikan perdebatan yang belum ku mengerti

sebentar lagi

 

23 Mar 2011

Sepasang burung origami putih

Sepasang burung origami putih

dalam hiruk pikuk, riuh gemuruh, namun penuh canda

kami berdua terbuat dari sebuah lipatan kertas putih

terbentuk elok dari tangan yang berbeda

bertemu untuk membanggakan diri dan bertaruh siapa yang tercantik

 

waktu pun tak sengaja menjawab

yang terindah hanyalah sepasang burung origami

 

aku pun tak berhenti menari

memainkan sayap-sayapku bernadakan nyanyian angin

hanya aku dan dia

kami melebarkan sayap bersama

di bawah mega penuh warna namun kaya akan jingga

mempersiapkan diri menggenggam mimpi menjuarai langit yang tak terbatas

 

kami bangga akan putih

putih itu bersih

putih itu dasar

putih itu suci

putih itu netral

putih itu…..

 

Namun putih tetaplah putih, mudah terkontaminasi

suatu hari dia berubah warna saat bertemu warna lain yang merayu

dia terbang mengepak menjauh

mendekati rona warna yang tak pucat sepertiku

 

kertas hanyalah kertas mudah hancur terbanjiri airmata

dan aku sang burung origami pun berakhir menjadi bubur kertas

meski rasa masih pekat setulus warna putih

Gelap

Gelap

Malam ini gelap benar-benar menemaniku,

tanpa rembulan dan gemintang…

hanya gelap yang mengerti isyaratku…

karena gelap,

aku bisa menangis sepuasnya membersihkan semua prasangka yang hampir membunuhku..

Dalam gelap,

aku bs melakukan yang aku suka.

Dalam gelap

aku bisa bersama siapa pun yang aku mau..

Dalam gelap,

aku menjadi jelek sejeleknya dapat menjadi manis semanisnya

tanpa ada hina atau puja..

Dan ketika gelap terpaksa pergi,

aku sadar aku sendiri,

aku sadar aku wanita biasa, yang tak sempurna..

Tak ada puja,

Tak dapat menjaga hati siapa pun..

17 juni 2011

Sesak

Sesak

Sel selku tengah melepuh lumpuh
aku diam mematung mski ragaku tengah meluncur bebas tanpa melangkah. .

angin yang meninju2 wajahku pun, ku abaikan dg sempurna
biru hitam aku pura2 tak peduli

dalam sebuah deru, ku tak berdaya
namun aku belum mati

msh ada yang mencekam d balik sesak. .

14 juni 2011

Aku ada (dee)

Aku ada (dee)

Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku
Selain hatiku dan ombak berderu

Di pantai ini kau selalu sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat ku tiba
Suaraku memanggilmu
Akulah lautan kemana kau selalu pulang

Jingga di bahuku
Malam di depanku
Dan bulan siaga
Sinari langkahku
Ku terus berjalan
Ku terus melangkah
Kuingin ku tahu engkau ada

Memandangimu saat senja
Berjalan di batas dua dunia
Tiada yang lebih indah
Tiada yang lebih rindu
Selain hatiku andai engkau tahu

Di pantai itu kau tampak sendiri
Tak ada jejakku di sisimu
Namun saat kau rasa
Pasir yang kau pijak pergi
Akulah lautan memeluk pantaimu erat

Jingga di bahumu
Malam di depanmu
Dan bulan siaga
Sinari langkahmu
Teruslah berjalan
Teruslah melangkah
Ku tahu kau tahu aku ada

_Dewi Lestari_

Tak ingin tahu (12 juni 2011)

Tak ingin tahu (12 juni 2011)

Senandung mnjdi bhsa yg mverbalkan stiap degup yg tak biasa. .
sabit mlengkungkan jutaan rasa yg trsmbnyi

biarlah diam jwb sluruh tnya
biarlah snyum timbal sluruh nyata

angin yang berlalu pun tahu keingintahuan itu berwajah dua
senang atau sesal yg kan tertatap tak ada yang tahu. .
namun mengapa tak mau tahu mnjadi sbuah pilihan yg terlupakan padahal jejak memberitahu
namun angin melenyapkannya dan pura2 tk tahu. .

dan
aku terdiam disini mewakili sang jejak untuk bersenandung melengkungkan senyuman dalam hmbusan angin yang terbalik. .

bintang coklat

bintang coklat

aku merona malu dalam susana dengungan nyamuk-nyamuk nakal
rasanya kulitku mati rasa
namun ruang di hatiku tengah membangun teras untuk dikunjungi
entah kapan tamu yang ku nanti tiba

telah ku berikan lukisannya pada yang Maha Menjaga Hatiku
agar Dia biarkan ia masuk kapanpun juga

terekam jelas
kakinya senantiasa digoyang-goyangkan kala berpikir
kepalanya disembunyikan tertunduk
berkali-kali menoleh ke arah jam dinding, wajahnya terlihat
punggungnya terus menatap arahku
memberikan inspirasi di tengah panasnya suasana

meski akuĀ  tahu aku telah mati dalam suasana itu

namun bayanganku memaksa masuk ke dalam barisan bintang
ku smarkan diriku agar sama dengan sekelilingku
bukan seperti bintang namun menjadi ruang hampa yang mengelilingi
bersandiwara merekam semua yang terjadi
padahal hanya satu yang ingin ku lihat
yaitu gaya dia berpikiir untuk ketiga kalinya.

dan setelah semuanya usai aku pun usai
tak ada lagi keinginan.
karena yang ku cari sebenarnya ada tanpa ku cari
bukan dia
disini bersinar namun masih tak mungkin ku gengam.